Ketidakmurnian DNA Manusia Modern Akibat Kawin Campur dengan
Manusia Purba, Bisakah Dijadikan Pembenaran Atas Diskriminasi Ras?
Pendahuluan
Selama berabad-abad di masa lampau, peradaban manusia telah membangun pandangan bahwa tidak semua manusia itu sejajar, ada yang memang terlahir untuk menjadi budak dan beberapa yang lain berhak menguasai yang lain. Hal ini senada dengan pernyataan dua filsuf terkemuka asal Yunani, Aristoteles dan Plato, yang intinya mereka berpandangan jika perbudakan adalah suatu hal yang lumrah sebab secara alamiah ada orang yang terlahir untuk tidak berhak atas dirinya sendiri. Sehingga penindasan suatu bangsa dan ras yang dianggap rendah oleh bangsa lain dapat dimaklumkan.
Namun, lain halnya dengan kondisi kita sekarang di zaman modern, saat ini yang ada justru kebalikannya dimana pemerintah dan tokoh-tokoh berpengaruh menggembar-gemborkan pandangan kesetaraan seluruh insan manusia tanpa terkecuali, bahwa semua manusia pada dasarnya setara karena berasal dari satu sumber nenek moyang yang sama, jadi tidak ada lagi alasan untuk penindasan kaum yang lemah atas nama perbedaan derajat. Sesungguhnya ini tampaklah sebuah gagasan yang sangat berkeadilan, namun apa yang terjadi jika ternyata bukti dan realita di lapangan bertolak belakang dengan apa yang sudah sebagian besar masyarakat kita yakini, bahwa sesungguhnya populasi manusia yang hidup di zaman modern ini bukan berasal dari satu sumber spesies nenek moyang yang sama, melainkan bercampur baur dari banyak nenek moyang yang berbeda-beda spesies.
Pembahasan
Pada tahun 2010, dunia penelitian dibuat gempar dengan adanya penemuan DNA manusia purba jenis Homo neanderthalensis pada gen sebagian besar populasi manusia modern. Jumlah persentase DNA Neanderthal tersebut berkisar pada 1-4% pada gen orang-orang Eurasia, dengan konsentrasi paling banyak ditemukan pada manusia di Asia Timur dan yang paling sedikit pada Eropa Barat. Selain Neanderthal, gen manusia purba lainnya yang bercampur pada spesies kita ialah Homo denisova dari Siberia, yang ditemukan sebanyak 6% gen mereka pada ras Melanesia di Papua dan suku Aborigin di Australia. Tidak menutup kemungkinan bagi kita Homo sapiens, untuk terlibat kawin silang dan menghasilkan keturunan dengan Homo neanderthalensis dan Homo denisova, secara ketiga spesies ini masih berada dalam satu genus yang sama yakni Homo.
Manusia yang memiliki gen Neanderthal hanyalah mereka yang nenek moyangnya melakukan migrasi keluar dari benua Afrika menuju Eropa dan Asia. Dalam teori Out of Africa, migrasi awal Homo sapiens terjadi sekitar 100.000 tahun yang lalu di wilayah yang sekarang kita kenal dengan Timur Tengah, disitulah kemungkinan terjadinya pertemuan pertama kali antara Homo sapiens dengan Homo Neanderthal.
Kesimpulan
Lalu apa konklusi dari premis-premis diatas yang
bisa kita ambil? Bahwa penulis ingin menegaskan perlu adanya rekonstruksi
pemikiran masyarakat luas tentang bagaimana cara kita memandang seorang
individu. Sesuatu disebut sebagai ‘orang’, bukan hanya karena dia adalah
manusia dengan spesies Homo sapiens,
namun lebih luas daripada itu. Diperlukan makna yang universal dalam penyebutan
orang sebagai individu yang berhak atas dirinya sendiri. Peluasan makna orang
harus diperlebar untuk segala sesuatu yang memiliki kesadaran akan dirinya
sendiri serta menempatkan dirinya sebagai subjek di alam semesta ini, maka dari
itu ia memiliki haknya sendiri, dilindungi secara hukum, dan memiliki derajat
yang setara dengan orang manapun yang memiliki kesadaran di dunia, sekalipun
dia itu bukan Homo sapiens, bukan Hominid, atau bahkan bukan makhluk hidup sama
sekali. Penemuan dan penjelajahan umat manusia yang begitu masif selama
beberapa dekade belakangan ini telah mencoba membuka mata kita, jika apa yang
sebelumnya kita pikir mustahil atau bahkan tak terpikir sama sekali, bisa saja
terwujud untuk eksis.
Tidak akan ada yang bisa memprediksi dengan sempurna
apa yang akan terjadi di masa depan. Saat ini saja artificial intelligence sudah eksis, bukan tidak mungkin di dekade
berikutnya kaum robot sudah berkeliaran di jalanan. Saat ini saja wahana
penjelajah Mars (Perseverance Rover) untuk yang kedua kalinya sudah sukses
didaratkan, bukan tidak mungkin jika kita berhasil mengadakan kontak dengan
kehidupan cerdas lainnya dari tata surya tetangga. Jika umat manusia sudah
sampai pada titik itu, apa gunanya lagi mempermasalahkan soal perbedaan suku
dan ras? Semua kasus SARA yang terjadi pada masyarakat kita saat ini nampaknya
menjadi permasalahan kecil dan sepele.
Perbedaan perlakuan yang hanya berdasar pada identitas
tanpa adanya alasan biologis maupun logis tidak lagi menjadi relevan. Diskriminasi
ras jangan sampai naik tingkat menjadi diskriminasi spesies ataupun
diskriminasi makhluk, justru mulai dari sekarang sudah harus mulai digalakkan
pemahaman ditengah khalayak luas bahwa tidak ada perbedaan kedudukan antara manusia
dengan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Selama segala sesuatu itu masih
berupa makhluk ciptaan tidak peduli entah dia hidup atau benda mati, pada
dasarnya kedudukannya sama yaitu sebagai ciptaan. Yang membedakannya hanyalah
pada kesadaran, mereka yang sadar akan dirinya di alam semesta ini wajib untuk
membawa dirinya sendiri serta berhak atas makhluk lain yang tidak berkesadaran.
Kamu dapat memanfaatkan sebuah batu, mengeksploitasinya,
menjadikannya alat bendamu. Namun jika kamu berpikir kedudukanmu lebih tinggi
daripada batu, mari kita lihat penjelasan dari sains. Unsur karbon ada pada
batu, begitu pula dengan manusia, lantas apa bedanya kita dengan batu? Mengapa
kamu menganggap derajatmu lebih tinggi dari batu? Karena materi yang menyusun
batu tersebut dengan manusia juga pada esensinya adalah sama. Tidak hanya soal
batu namun matahari, bintang, nebula hingga lubang hitam semuanya mengandung
unsur yang sama dengan tubuhmu! Nitrogen, besi, kalsium, fosfor bahkan
hidrogen! Inilah yang dinamakan ikatan persaudaraan kosmis, segala sesuatu yang
ada, pernah ada atau bakal ada, semuanya saling terikat dalam jagat raya ini.
Dan jika mau ditelaah lebih mendalam lagi. Semua
unsur-unsur tadi juga hanya terdiri dari atom-atom yang sangat kecil. Yang mana
atom-atom ini tadi juga terdiri dari proton, elektron dan neutron yang sangat
amat kecil yang memiliki jarak sangat berjauhan jika dibandingkan dengan ukurannya,
jadi selisih jarak antara proton dengan elektron adalah ruang kosong, inti dari
tubuh kita dan penyusun dari segala macam bentuk materi itu adalah ketiadaan.
Yang sampai saat ini kita bisa berwujud, bersentuhan itu adalah sebab dari
energi dan gaya.
Sekarang setelah mengetahui bagaimana posisi kita di
alam semesta ini, nampaknya kita telah kehilangan motivasi untuk dapat
menyombongkan diri, identitas kita, suku kita, ras kita, spesies kita bahkan
status kita sebagai makhluk hidup. Hanyalah bernilai setara, tidak lebih, tidak
kurang, dengan segala sesuatu yang eksis di alam ini. Jadi jika kejadian serupa
dengan perumpamaan kasus saya diatas pun terjadi di dunia nyata, maka itu sama
sekali tidak akan berpengaruh pada tatanan sosial manapun, karena publik sudah
paham sepenuhnya tidak ada yang perlu dibanggakan atas suatu identitas jika itu
hanya berujung dengan merendahkan yang lainnya. Perlunya pemahaman semacam ini
akan mengantar umat manusia pada puncak kebijaksanaan tertinggi dalam memandang
alam semesta dan kehidupannya. Tulisan ini akan saya akhiri dengan dua petuah
terkenal dalam dunia ilmu pengetahuan yang sekiranya cocok dijadikan intisari
dari esai saya.
“Semakin banyak kamu tahu, semakin kamu sadar betapa tidak tahunya engkau.” (Socrates)
“Kita semua ini bukan apa-apa melainkan ketiadaan.” (Neil
deGrasse Tyson)


Post a Comment
Post a Comment